with No Comments

Mungkin beberapa dari pembaca pernah melihat RPG-RPG lama dengan grid-based exploration dan pertarungan yang dilakukan semua dalam sudut pandang orang pertama, tanpa adanya sprite karakter yang muncul di layar. Tipe RPG seperti ini banyak muncul dua dekade lalu, tetapi karena dianggap terlalu kuno, sederhana, dan grindy, genre ini sempat “mati.”

Tetapi, belakangan ini, genre ini sedang mengalami proses kebangkitan, dengan banyaknya judul-judul baru yang mulai muncul setelah sekian lama hampir tidak terdengar kabarnya.

 

Sejarah DRPG dan Asal-Usul Istilahnya
Jenis RPG seperti yang disebut di atas, berawal dari seri game yang rilis pada tahun 1981, Wizardry series. Meskipun merupakan game besutan pengembang US, ternyata seri ini cukup populer di Jepang. Selain ikut mempengaruhi munculnya seri-seri JRPG yang sekarang terkenal, kepopulerannya juga membuahkan berbagai “tiruan”, yang biasa dikenal sebagai Wizardry-like atau Wizardry-clone.

Seri Wizardry orisinil sendiri, berhenti pada tahun 2001, namun di Jepang, Wiz-like masih terus bermunculan. Di luar Jepang, karena kurang populer, game Wizardry-like ini sering disebut hanya sebagai Dungeon Crawler, namun istilah ini terlalu luas, mencakup game yang sama sekali berbeda jenis seperti Diablo. Ada juga yang menyebutnya sebagai CRPG (Crawler Role-Playing Game), gridder, dan sebagainya, namun karena popularitasnya yang kurang, istilah-istilah ini juga tidak umum digunakan.

Wizardry 8, game Wizardry orisinil terakhir.
Wizardry 8, game Wizardry orisinil terakhir.

Di sisi lain, di Jepang di mana genre ini masih relatif sehat, genre ini disebut sebagai 3D Dungeon RPG (3DDRPG), yang kemudian dipersingkat lagi menjadi DRPG, dan istilah ini sudah cukup umum digunakan untuk menyebut game-game tipe ini di Jepang.

 

Apa Bagusnya Genre Kuno Seperti Ini?
Ini merupakan salah satu alasan utama mengapa genre ini “mati”. Karena terlihat kuno, tidak punya sprite pemain, animasi dan mekanisme permainan yang terlihat sederhana, kebanyakan pemain kehilangan minat terhadap DRPG hanya dengan melihat trailer atau screenshotnya.

Padahal, di balik itu semua, DRPG pada umumnya memiliki kedalaman gameplay yang baik, dan tingkat kesulitan yang lebih menantang dibanding JRPG pada umumnya. Dengan variasi job yang banyak dengan efek-efek skill yang juga sangat bervariasi, tiap job memiliki peran yang sangat spesifik, sehingga keseimbangan party dan penggunaan skill sangat perlu diperhatikan, apalagi karena musuh-musuhnya juga kuat dan bisa dengan mudah membuatmu game over jika persiapanmu kurang. Ditambah dengan eksplorasi dungeon dengan desain yang kompleks dan jebakan di mana-mana, DRPG ini memang ditujukan untuk orang-orang penggemar turn-based RPG yang ingin sesuatu yang lebih menantang dan lebih memiliki kedalaman gameplay. Sangat cocok untuk penggemar JRPG yang menaruh kualitas gameplay di atas kualitas visual.

Desain dungeon yang kompleks merupakan salah satu kelebihan utama DRPG. Navigasi sampai peta lengkap bisa memakan waktu yang cukup lama
Desain dungeon yang kompleks merupakan salah satu kelebihan utama DRPG.
Gambar diambil dari Elminage Gothic.

Awal Mula Kebangkitan
DRPG ini terus hidup di Jepang dan terus terlupakan di barat. Kebangkitan mulai terjadi oleh Wizardry Xth, game besutan Michaelsoft yang sekarang telah bangkrut. Wizardry Xth ini dianggap mempengaruhi pengembangan banyak DRPG modern, seperti Generation Xth, Class of Heroes, Etrian Odyssey, dan Elminage. Pengembang Generation Xth, Experience, memang didirikan oleh mantan pegawai Michaelsoft. Class of Heroes memiliki beberapa tanda-tanda bahwa ia dikembangkan menggunakan dasar source code dari Wizardry Xth. Dan ada juga rumor yang menyatakan beberapa mantan pegawai Michaelsoft juga terlibat dalam pengembangan Etrian Odyssey.

ki: Generation Xth, DRPG pertama buatan Experience setelah bangkrutnya Michaelsoft ka: Operation Abyss: New Tokyo Legacy, remake dari Generation Xth untuk PSVita
ki: Generation Xth, DRPG pertama buatan Experience.
ka: Operation Abyss: New Tokyo Legacy, remake dari Generation Xth untuk PSVita.

Dari keempat seri baru ini, mungkin karena bantuan Atlus yang sudah memiliki posisi pasar di barat yang baik, Etrian Odyssey menjadi cukup sukses di luar Jepang, dan seri Etrian Odyssey baru terus bermunculan dan tetap populer baik di dalam maupun di luar Jepang.

Sayangnya, kesuksesan Etrian Odyssey tidak diikuti oleh kesuksesan DRPG lainnya. Class of Heroes 1 dan 2 rilis di luar Jepang, namun tidak begitu populer, sedangkan Generation Xth tetap tinggal di dalam Jepang saja. Banyak DRPG lain, seperti Elminage, The Dark Spire, Unchained Blades, dan lain-lain yang meskipun di rilis di luar Jepang, namun sangat tidak populer dan penjualannya sangat mengecewakan. Dan banyak juga yang bahkan tetap tinggal di Jepang karena prospek rilis di luar Jepang sangat buruk, seperti seri Dungeon Travelers. Etrian Odyssey merupakan DRPG pertama yang sukses di luar Jepang setelah genrenya sempat mati, namun sulit mengatakan bahwa seri inilah yang mengakibatkan kebangkitan DRPG sebagai sebuah genre.

 

Demon Gaze, Pembawa Perubahan Yang Mengejutkan.
Experience terus membuat DRPG di Jepang. Meskipun penjualan mereka tidak mengagumkan, tapi cukup bagi mereka untuk terus bertahan dan mengembangkan game baru. Sampai pada tahun 2013, mereka merilis Demon Gaze, sebuah DRPG untuk PSVita dengan estetika dan elemen-elemen yang membuat game ini lebih ramah untuk gamer yang lebih casual dibanding game-game mereka yang lain. Tidak disangka, game ini laku keras. Stok di berbagai toko habis di seminggu pertama penjualan. Pengembangnya pun kaget, belum pernah penjualan game mereka bisa sebaik ini. Meskipun tetap tidak sebanyak game-game JRPG populer lainnya, namun tetap jauh lebih baik dibanding game-game mereka sebelumnya. Sebegitu besarnya efek popularitas Demon Gaze, keadaan Experience benar-benar berubah total. Dari sebuah pengembang kecil yang sempat beberapa gamenya, Operation Abyss: New Tokyo Legacy dan Labyrinth Cross Blood Infinity Ultimate, nyaris batal rilis sama sekali karena publishernya bangkrut, sekarang malah mereka bisa menjadi publisher untuk game besutan pengembang lain, GalGun Double Peace.

Demon Gaze, bisa dibilang salah satu alasan utama DRPG memasuki era kebangkitan.  (Gambar Prinny hanya sebagai bonus dari NISA.)
Demon Gaze, bisa dibilang salah satu alasan utama DRPG memasuki era kebangkitan.
(Gambar Prinny hanya sebagai bonus dari NISA.)

Kesuksesan Demon Gaze di Jepang, membuat NIS America tertarik membawanya ke luar Jepang. Ironisnya, sebagai game PSVita, platform yang sering dibilang kekurangan game, justru malah membuat game yang tidak mengandalkan nama besar atau budget tinggi seperti ini lebih menarik perhatian para pemiliknya. Alhasil, Demon Gaze berhasil mengulangi kesuksesannya, menjadi salah satu game yang sering direkomendasikan bagi pemilik PSVita dan bagi pemula yang ingin mencoba masuk ke genre DRPG. Selain itu, karena Demon Gaze menggunakan istilah DRPG di dalam game untuk menyebut genrenya, dan situs berita di saat itu juga mulai menggunakan istilah tersebut, istilah DRPG sekarang pun sudah mulai umum digunakan di luar Jepang untuk menyebut tipe game seperti ini.

Setelah kesuksesan Demon Gaze di seluruh dunia, banyak pengembang yang juga memulai mengembangkan atau memport game DRPG ke PSVita, dan cukup banyak juga yang akan dirilis di luar Jepang. Bahkan ada contoh seperti Dungeon Travelers 2, yang rilis aslinya di PSP hanya di Jepang, sekarang mendapat port ke PSVita dan akan di rilis di US bulan Agustus depan. DRPG-DRPG juga sekarang mendapat lebih banyak eksposure, diskusi DRPG sering terjadi dan berita DRPG lebih sering muncul ke permukaan.  Moero Chronicle, DRPG besutan Compile Heart, cukup sukses dan laku di dunia barat. Meskipun versi bahasa Inggrisnya hanya tersedia di Asia, banyak yang rela mengimpor demi memainkannya. Operation Abyss: New Tokyo Legacy, juga berhasil menarik perhatian konsumen dan terjual habis di NISA Online Store.

Dungeon Travelers 2. Dijadwalkan untuk rilis US bulan Agustus depan. Di balik desainnya, game ini dianggap salah satu DRPG terbaik saat ini oleh para penggemar DRPG.
Dungeon Travelers 2. Dijadwalkan untuk rilis US bulan Agustus depan.
Di balik desainnya, game ini dianggap salah satu DRPG terbaik oleh para penggemar DRPG.

Untuk DRPG yang baru akan rilis pun,sekarang lebih banyak yang dimuat di situs-situs berita game dan banyak dibicarakan di forum-forum. Bahkan yang masih hanya rilis di Jepang pun, banyak juga diskusi-diskusi dari pemain-pemain di luar Jepang yang sudah menantikan gamenya.

 

Akhir kata
Memang, untuk saat ini kebangkitan DRPG masih terfokus di satu platform. Namun, jika kebangkitan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin genre ini bisa kembali ke masa kejayaannya dulu. Melihat situasi sekarang, jika ada pembaca yang penasaran dengan genre DRPG ini, sangat disarankan untuk mulai mencoba masuk ke genre ini, karena saat ini mulai banyak gamenya yang rilis, dan banyak juga bermunculan enthusiast yang bisa membantu para pemula untuk memulai.

Follow Ketampanan:

Seorang wibu-in-denial (kata orang sih, padahal sih emang bukan wibu). Senang bermain game, terutama JRPG yang relatif kurang terkenal, Dungeon RPG, dan Hunting game, tapi kadang juga main FPS, RTS, atau Rhythm game.