with No Comments
800px-Nintendo.svg
Logo Nintendo yang digunakan sejak tahun 2006

PENDAHULUAN

Jika mendengar kata Nintendo, mungkin kata berikutnya yang ada di dalam pikiran kita adalah Mario, Donkey Kong, Zelda, atau bahkan video game. Nintendo adalah salah satu perusahaan yang telah lama “bermain” di industri video game.

Namun, banyak orang yang tidak mengetahui (atau setidaknya, kurang mengetahui) bahwa Nintendo memiliki sejarah yang lebih jauh dan mendalam, baik sejarah Nintendo sebagai suatu perusahaan maupun sejarah tokoh-tokoh yang membesarkan nama Nintendo.

Dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan sejarah singkat Nintendo dari awal pendirian (1889) hingga awal memasuki industri video game (1977).

 

BERAWAL DARI KYOTO

Sejarah Nintendo dimulai di bagian timur Kyoto, sebuah kota di Jepang yang dikenal sebagai ibu kota Jepang di masa lalu. Nintendo dimulai dari seorang seorang seniman dan perajin karuta (かるた, istilah Jepang untuk kartu/kata serapan dari carta dalam bahasa portugis) yang bernama Fusajiro Yamauchi (山内 房治郎). Pada tahun 1889, Fusajiro mendirikan Nintendo Koppai, sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual Hanafuda (花札, playing card tradisional Jepang).

Dalam bahasa Jepang, Nintendo terdiri dari tiga kata (atau suku kata?) yaitu Nin-ten-do. Kata Nintendo populer diterjemahkan sebagai leave luck to heaven dalam bahasa Inggris, namun terjemahan sepenuhnya adalah work hard, but in the end it is in heaven’s hands.

Kartu Hanafuna buatan Nintendo
Kartu Hanafuda buatan Nintendo

Seiring berjalannya waktu, kartu Hanafuda (dengan nama Daitoryo) produksi Nintendo menjadi kartu terpopuler di wilayah Kyoto, hal tersebut berarti bahwa Nintendo mendapatkan keuntungan yang cukup untuk terus menjalankan usahanya. Nintendo pun kelak membuka toko di kota lain (selain di Kyoto) seperti Osaka, bahkan di region lain yaitu Kanto.

 

EKSPANSI & PENCARIAN PENERUS TAKHTA

Pada tahun 1907, Nintendo melakukan ekspansi perusahaan, Nintendo menjadi perusahaan Jepang pertama yang memproduksi playing card gaya western. Untuk memperluas penjualan produknya, Nintendo melakukan kerjasama dengan Japan Tobacco and Salt Public Corporation (日本専売公社 / Nippon Senbai Kōsha) untuk menjual produk Nintendo di toko rokok di seluruh Jepang. Berkat kerjasama tersebut, Nintendo pun mendapatkan keuntungan yang semakin besar sehingga menjadi perusahaan playing card terbesar di Jepang.

Agar Nintendo dapat terus berlanjut, putri Fusajiro harus menikah dengan laki-laki yang dianggap pantas olehnya.

Pada saat Nintendo sukses, Fusajiro telah siap untuk pensiun. Namun, Fusajiro tidak memiliki anak laki-laki sehingga hal tersebut menjadi masalah (di Jepang pada masa itu, sebuah perusahaan harus diturunkan kepada anak laki-laki). Agar Nintendo dapat terus berlanjut, putri Fusajiro harus menikah dengan laki-laki yang dianggap pantas olehnya. Oleh karena itu, sang putri, Tei Yamauchi dijodohkan oleh seorang siswa pekerja keras yang bernama Sekiryo Kanaeda. Sekiryo pun setuju untuk menjadi penerus Fusajiro dan mengganti namanya menjadi Sekiryo Yamacuhi. Pada tahun 1929, Sekiryo menjadi pemimpin Nintendo menggantikan Fusajiro.

 

SEPAK TERJANG SEKIRYO YAMAUCHI

Menjadi penerus Fusajiro untuk memimpin Nintendo bukanlah hal yang mudah, Sekiryo dituntut untuk mampu mengulang, bahkan melebihi kesuksesan Nintendo saat dipimpin oleh Fusajiro. Pada tahun 1933, Sekiryo mendirikan perusahaan joint-venture yang bernama Yamauchi-Nintendo dan mendirikan gedung kantor baru untuk Nintendo. Tak hanya itu, Sekiryo pun mendirikan perusahaan distribusi bernama Marufuku pada tahun 1947 untuk menjual produk playing card bergaya western. Dengan memiliki perusahaan distribusi baru, Sekiryo berhasil menjual produk Nintendo di seluruh Jepang. Secara keseluruhan, Sekiryo berhasil menjalankan usaha secara lebih besar, sangkil dan terstruktur.

Produk playing cards Nintendo
Produk playing cards Nintendo

DRAMA KELUARGA

Pada bagian sebelumnya, kita mengetahui bahwa Fusajiro Yamauchi memiliki “sedikit” masalah saat harus pensiun dan menentukan penerusnya di Nintendo dan akhirnya memilih sang menantu. Hal tersebut harus terulang kembali di masa Sekiryo Yamauchi, namun dengan drama yang lebih.

Seperti generasi sebelumnya, Sekiryo dan Tei tidak memiliki anak laki-laki, Putri pertama mereka, Kimi Yamauchi, menikah dengan seorang dari keluarja perajin tersohor yang bernama Shikanojo Inaba. Seperti apa yang dilakukan ayah mertuanya, Shikanojo mengubah namanya menjadi Shikanojo Yamauchi. Namun, Shikanojo tidak begitu saja menjadi penerus Sekiryo sebagai pemimpin Nintendo.

Pada tahun 1927, keturunan dari Shikanojo dan Kimi dilahirkan, seorang laki-laki bernama Hiroshi Yamauchi. Hiroshi adalah keturunan laki-laki pertama dari keluarga Yamauchi. Beberapa tahun kemudian (tepatnya, saat Hiroshi berusia lima tahun), drama keluarga dimulai, Shikanojo pergi menelantarkan Kimi dan Hiroshi. Tak lama kemudian, Kimi pun bercerai dengan Shikanojo dan membesarkan Hiroshi sendirian. Namun, Kimi merasa tak mampu untuk membesarkan Hiroshi sendirian. Kimi menyerahkan Hiroshi kepada Sekiryo dan Tei sementara ia tinggal bersama saudara perempuannya.

Selama dalam pengasuhan kakek dan nenek-nya, Hiroshi dididik secara matang dan old school. Namun sayangnya, Hiroshi tidak suka dengan cara itu dan menjadi anak yang rebellious. Hiroshi kadangkala mengunjungi Kimi, namun peran Kimi bukanlah seperti peran seorang ibu pada umumnya, namun lebih seperti seorang bibi. Hiroshi sama sekali tidak pernah bertemu dengan Shikanojo, bahkan saat Shikanojo yang telah tua dan sakit datang untuk mengunjunginya, ia menolak.

Hiroshi merasa bersalah dan menyesal karena telah menolak saat Shikanojo menemuinya, dia pun berduka selama berbulan-bulan atas kepergian ayahnya.

Saat berusia dua puluh-an, Hiroshi mendapatkan kabar dari adik tirinya bahwa sang ayah telah meninggal karena penyakit stroke. Sang adik tirinya pun menyarankan agar Hiroshi datang ke pemakaman ayahnya. Saat menghadiri pemakaman ayahnya, Hiroshi bertemu dengan empat adik tiri, ibu tiri, dan bibi tiri-nya, bahkan sang bibi mengatakan bahwa Hiroshi sangat mirip dengan Shikanojo. Hiroshi merasa bersalah dan menyesal karena telah menolak saat Shikanojo menemuinya, dia pun berduka selama berbulan-bulan atas kepergian ayahnya.

Pada tahun 1940 Hiroshi dipersiapkan sang kakek untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, sang kakek merencanakannya untuk megambil jurusan ilmu hukum atau teknik. Namun, saat itu perang tengah berkecamuk di Jepang dan segala urusan warga Jepang harus ditunda terlebih dahulu. Selama masa perang, Tei Yamauchi-lah memipin keluarga Yamauchi.

Setelah perang usai pada tahun 1945, Hiroshi menuntut ilmu di Universitas Waseda, dia mengambil jurusan ilmu hukum. Hiroshi pun dijodohkan oleh kakeknya dengan seorang wanita bernama Michiko Inaba (walaupun memiliki nama keluarga yang sama dengan ayahnya, Michiko sama sekali tidak memiliki hubungan dengan keluarga Shikanojo). Michiko bukanlah orang sembarangan, dia adalah seorang ningrat keturunan Samurai kelas atas yang mengabdi kepada Daimyo di pulau Shikoku. Setelah pindah ke Kyoto, keluarga Michiko dikenal sebagai perajin Cloisonné yang terkenal. Tak lama kemudian, Hiroshi pun menikahi Michiko.

Saat berusia 21 tahun, Hiroshi dipanggil oleh sang kakek yang saat itu tengah menderita penyakit stroke. Keduanya bertemu, Sekiryo meminta agar Hiroshi mau menjadi penerusnya sebagai pemimpin Nintendo. Hiroshi pun memenuhi permintaan kakeknya, namun dengan syarat bahwa tidak boleh ada satupun keluarga Yamauchi yang bekerja di Nintendo karena Hiroshi tak ingin ada seorang pun yang menghalanginya sebagai penerus “takhta” Nintendo. Sekiryo pun menyanggupi persyaratan yang diberikan Hiroshi, dalam keadaan sakit ia pun memecat satu-satunya keluarga Yamauchi yang bekerja di Nintendo yaitu sepupunya.

 

AWAL KEPEMIMPINAN HIROSHI

Pada tahun 1949, Hiroshi menjadi pemimpin Nintendo menggantikan kakeknya. Tak lama kemudian, Sekiryo pun meninggal dunia, ia tak sempat mengetahui apakah perusahaannya akan sanggup bertahan di bawah kepemimpinan Hiroshi. Bagi Sekiryo, Hiroshi adalah seorang anak nakal, kurang ajar, dan manja. Hiroshi pun harus menanggung beban saat menyadari bahwa sesungguhnya dia telah mengecewakan baik sang ayah yang telah meninggal dan sang kakek yang baru saja meninggal.

Pada awal memimpin Nintendo, Hiroshi ditentang oleh para pegawainya, mereka menganggap bahwa Hiroshi belum berpengalaman dan mendengar kabar bahwa Hiroshi akan memecat pegawai yang telah bekerja sejak masa kepemimpinan Sekiryo. Kabar tersebut ternyata benar, Hiroshi memecat semua manager yang telah bekerja sejak kepemimpinan kakeknya, Hiroshi merasa bahwa semua orang lama tersebut akan menghambat kepemimpinannya. Hiroshi pun mengubah nama Nintendo menjadi Nintendo Karuta (dalam bahasa Inggris, Nintendo Playing Cards) pada tahun 1951. Hiroshi pun mendirikan kantor utama baru di sekitar wilayah Takamatsu-cho.

615px-Nintendo_former_headquarter_plate_Kyoto
Papan nama Nintendo Playing Cards, foto karya Eckhard Pecher

Agar dapat bersaing dengan playing cards lebih moderen yang diimpor dari barat, Nintendo mencoba memulai produksi playing card berlapiskan plastik pada tahun 1953. Enam tahun kemudian (1959), Nintendo bekerjasama dengan perusahaan Walt Disney untuk mendapatkan lisensi untuk memproduksi playing cards bergambar Mickey Mouse dan karakter Disney lainnya. Berkat kerjasama tersebut, Nintendo pun memperluas market penjualannya kepada anak-anak dan keluarga, produk playing card Disney buatan Nintendo pun dipromosikan melalui iklan televisi. Hiroshi pun membangun sebuah sistem distribusi baru sehingga produk Nintendo dapat dijual di toko mainan dan department store yang lebih besar. Kerja keras tersebut pun berbuah manis, Nintendo berhasil memecahkan rekor penjualan sebesar 600.000 pak kartu pada tahun tersebut.

 

MENCOBA USAHA BARU

Pencapaian tersebut tidak cukup untuk memuaskan Hiroshi, ia ingin agar Nintendo melakukan ekspansi lebih cepat. Walaupun berusaha meningkatkan kualitas playing cards Disney-nya, produk Nintendo tersebut masih kalah bersaing dengan playing cards yang diimpor dari Amerika Serikat. Produk utama Nintendo (kartu Hanafuda) pun menghasilkan keuntungan yang tidak seberapa dan sulit untuk bersaing di pasaran. Hiroshi pun mengganti nama Nintendo menjadi Nintendo Company dan membuka saham perusahaan untuk umum dengan cara mendaftarkannya di bursa saham Osaka “kelas dua” dan bursa saham Kyoto. Hiroshi pun menjabat menjadi chariman Nintendo.

Nintendo pun mencoba usaha lain yaitu dengan mendirikan Love Hotel

Nintendo mencoba usaha selain playing cards, usaha pertama yang dipilih adalah dengan memproduksi nasi instan (semacam mie instan, tetapi nasi), dan tak lama kemudian gagal. Nintendo pun mencoba usaha lain yaitu dengan mendirikan Love Hotel yang dapat disewa per-jam. Bagi Hiroshi, bisnis love hotel merupakan personal passion (Hiroshi terkenal, bahkan oleh istrinya, sebagai “pria nakal”). Hiroshi tak berhenti mencoba usaha lain, dia pun mendirikan perusahaan taksi yang bernama Daiya. Perusahaan tersebut cukup menguntungkan, walaupun akhirnya ia harus menyerah karena lelah bernegosiasi dengan serikat pekerja para supir taksi yang menuntut gaji tinggi. Bersamaan dengan penutupan perusahaan taksi tersebut, Hiroshi pun menutup usaha love hotelnya.

 

AWAL BARU

Setelah gagal dengan berbagai macam usaha yang dicoba, Hiroshi merencanakan berbagai macam hal untuk Nintendo. Hiroshi pun memindahkan kantor utama Nintendo ke gedung baru berlantai tiga sebagai langkah awal. Hiroshi meminta bantuan seorang lulusan jurusan ilmu hukum dari Universitas Doshisha yang bernama Hiroshi Imanishi, Seiring Nintendo bersiap untuk memulai kembali usahanya, Hiroshi Imanishi bekerja untuk Nintendo di beberapa departemen seperti administrasi, keuangan, dan perencanaan; Imanashi pun menjabat sebagai General Affairs Manager.

Hiroshi Yamauchi dan Hiroshi Imanishi pun menyiapkan sebuah departemen bernama Nintendo Games yang bertugas menentukan langkah awal Nintendo. Departemen tersebut kelak menjadi kantor research and development pertama Nintendo yang berlokasi di sebuah gudang di Uji, Kyoto.

 

GUNPEI YOKOI

Pada tahun 1965, seorang inventor dan ahli elektronik bernama Gunpei Yokoi datang ke Nintendo untuk mencari pekerjaan. Gunpei pun diterima bekerja di Nintendo sebagai janitor sekaligus teknisi untuk mengurus assembly-line machines yang memproduksi kartu hanafuda.

Saat bertanya kepada Hiroshi Yamauchi mengenai apa yang harus dibuatnya, Gunpei hanya mendapatkan jawaban singkat dari Hiroshi, “sesuatu yang hebat”

Beberapa bulan setelah bekerja di Nintendo, Gunpei pun dipanggil oleh Hiroshi Yamauchi. Gunpei pun menemui sang boss di kantornya, terlihat Hiroshi Yamauchi pun hadir di kantor tersebut. Gunpei memerhatikan arahan dari Hiroshi Yamauchi, Gunpei ditugaskan dalam sebuah proyek di divisi Games. Gunpei bekerja sebagai bawah Hiroshi Imanishi untuk mendirikan departemen engineering dan membuat produk yang dapat dijual saat hari Natal. Saat bertanya kepada Hiroshi Yamauchi mengenai apa yang harus dibuatnya, Gunpei hanya mendapatkan jawaban singkat dari Hiroshi, “sesuatu yang hebat”.

Gunpei pun menyadari, bahwa ia baru saja menciptakan suatu alat yang mungkin merupakan jawaban dari permintaan Hiroshi. Alat yang dibuatnya adalah alat yang cukup unik, berbentuk seperti tangan panjang yang jika pegangan di ujungnya didekatkan, maka tangan tersebut akan memanjang. Alat tersebut dapat digunakan untuk berbagai hal, namun Gunpei saat itu membuatnya karena sekadar iseng.

Tak lama kemudian, Gunpei kembali menemui Hiroshi Yamauchi dan Hiroshi Imanishi, ia mendemonstrasikan alat buatannya. Alat buatan Gunpei ternyata dianggap bagus oleh Hiroshi Yamauchi, Hiroshi Yamauchi pun memberikan lampu hijau kepada Gunpei dan Hiroshi Imanishi untuk segera memproduksinya. Gunpei pun memulai produksi alat buatannya, alat tersebut menjadi produk mainan pertama dari Nintendo, mainan tersebut dinamakan Ultra Hand. Ultra Hand pun mulai dipasarkan, mainan tersebut dipromosikan di iklan televisi. Nintendo meraih kesuksesan pertamanya setelah sekian lama, Ultra Hand yang dijual seharga 800 Yen berhasil terjual sebanyak 1.200.000 juta unit.

Setelah kesuksesan Ultra Hand, Gunpei pun memiliki tugas baru untuk menciptakan alat-alat yang dapat dijual sebagai mainan. Mainan ciptaanya ditunjukkan kepada Hiroshi Yamauchi untuk didemonstrasikan dan didiskusikan, Hiroshi pun terkadang memberikan masukan dan tantangan kepada Gunpei untuk memperbaiki mainan ciptaannya. Walaupun tidak memiliki latar belakang sebagai seorang engineer, Hiroshi memiliki insting yang sangat kuat, ia mengetahui apabila mainan ciptaan Gunpei akan berhasil dan segera memerintahkan Hiroshi Imanishi untuk memulai produksi. Mainan ciptaan Gunpei pun menghasilkan berbagai macam produk dengan nama Ultra sebagai ciri khas. Ultra Machine adalah mainan yang meluncurkan replika bola baseball dan dapat dipukul dengan replika bat baseball; Ultra Machine terjual sebanyak lebih dari 1.000.000 unit dari tahun 1966-1970. Mainan lain dari seri Ultra adalah Ultracope yang berbentuk seperti periskop pada kapal selam dengan fungsi yang sama.

Gunpei pun terus berpikir untuk menciptakan mainan baru, sampai akhirnya dia mendapatkan ide untuk membuat mainan yang unik. Mainan ciptaan Gunpei kali ini membutuhkan dua orang untuk memainkannya. Mainan yang ditujukan untuk pasangan ini memiliki dua ujung yang harus dipegang oleh salah satu tangan masing-masing pasangan dan kedua pasangan saling berpegangan tangan untuk melihat “nilai” yang mereka peroleh; nilai tersebut mengindikasikan tingkat kasih sayang kedua pasangan. Mainan yang dinamakan Love Tester ini pun menjadi terkenal dan laku di pasaran pada tahun 1969-1970. Dengan berbagai kesuksesan dalam menciptakan mainan baru untuk diproduksi Nintendo, departemen research and development pun berkembang, banyak engineer muda yang bergabung dengan Nintendo.

 

MASAYUKI UEMARA

Pada awal tahun 1970, seorang engineer muda bernama Masayuki Uemara mendatangi kantor Nintendo. Masayuki mencoba menjual solar cell produk Sharp Company. Masayuki pun bertemu dengan Gunpei, keduanya mendiskusikan mengenai penerapan solar cell pada mainan produksi Nintendo. Dari diskusi tersebut, keduanya setuju bahwa solar cell buatan Sharp tersebut dapat digunakan untuk memproduksi mainan yang unik. Tak lama setelah pertemuan tersebut, Masayuki pun bergabung dengan Gunpei di bagian research and development Nintendo.

Nintendo Beam Gun laku di pasaran, tercatat lebih dari 1.000.000 unit habis terjual

Masayuki dan Gunpei segera bekerja bersama Gunpei, mereka mencoba mengubah ukuran solar cell dari sebsar koin menjadi lebih kecil sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sensor cahaya. Gunpei pun memiliki ide untuk menggunakan sensor cahaya tersebut sebagai sasaran untuk permainan tembakkan. Keduanya pun mulai mengerjakan “pistol cahaya” yang cukup murah untuk dipasarkan. Pistol tersebut menggunakan cahaya kecil sebagai “peluru” untuk menembakkannya ke sasaran yang menggunakan sensor cahaya. Untuk menambah keunikan, sensor cahaya tersebut digunakan untuk memicu berbagai macam efek seperti raungan singa dan “ledakan” pada tumpukan tong mainan.

Mainan ciptaan Masayuki dan Gunpei pun dijual ke pasaran pada awal tahun 1970 dengan harga 4000-5000 Yen dan dinamakan Nintendo Beam Gun. Nintendo Beam Gun laku di pasaran, tercatat lebih dari 1.000.000 unit habis terjual. Berkat kesuksesan tersebut, saham Nintendo pun dapat naik kelas ke “kelas pertama” di bursa saham Osaka.

 

MARKAS BARU & LAPANGAN TEMBAK

Seiring kesuksesan Beam Gun, Nintendo pun membutuhkan tempat yang lebih luas untuk memenuhi permintaan produknya, Hiroshi pun melakukan ekspansi. Hiroshi membeli tanah di sekitar pabrik hanafuda untuk  membangun markas baru Nintendo. Markas baru ini jauh lebih besar dari sebelumnya, dengan beberapa gedung yang terdiri tinggi tiga lantai, berwarna putih, berbentuk persegi, dan dilengkapi tanda nama Nintendo berwarna biru yang dapat terlihat dari kereta commuter dan kuil Tofuku-ji. Markas baru tersebut pun dilengkapi oleh penjaga keamanan berseragam biru yang disewa dari firma keamanan di Kansai, para penjaga tersebut bersiaga siang dan malam.

Sementara Beam Gun masih dijual di pasaran, Gunpei menyarankan kepada Hiroshi untuk menggunakan teknologi sensor cahaya dengan cara lain. Pada saat itu skeet shooting sedang populer di Jepang, Gunpei membeli rifle dan mencoba skeet shooting. Setelah mencoba skeet shooting, Gunpei memberitahu Hiroshi bahwa “pistol cahaya” yang diterapkan pada Beam Gun dapat digunakan untuk meniru pengalaman skeet shooting. Setelah mendengar saran dari Gunpei, Hiroshi pun mendapatkan ide untuk menerapkannya. Pada awal 1960, bowling pernah menjadi tren di Jepang, namun tren tersebut telah merebut dan banyak tempat bowling yang tutup. Hiroshi menganggap bahwa tempat bowling tersebut dapat diubah menjadi sebuah lapangan tembak untuk skeet shooting “virtual” yang disarankan Gunpei.

Untuk mewujudkan ide skeet shooting “virtual” tersebut, Gunpei dan Masayuki harus bekerja keras, seringkali mereka menghadapi kesulitan teknis dalam proses membuat mesin skeet shooting “virtual”. Untuk membantu Gunpei dan Masayuki, Nintendo merekrut seorang engineer muda yang bernama Genyo Takeda. Gunpei, Masayuki, dan Genyo pun akhirnya bekerja sama untuk dapat menyelesaikan mesin skeet shooting “virtual” tersebut.

Pada tahun 1973, Nintendo membuka Laser Clay Range pertama mereka di Kyoto, Laser Clay Range tersebut merupakan “bentuk akhir” dari ide skeet shooting “virtual” yang mereka kerjakan. Pada saat pembukaan pertama, Nintendo mengundang para wartawan dalam acara tersebut. Namun, pada saat acara dimulai dan mesin Laser Clay Range didemonstrasikan, ternyata terdapat masalah. Mesin yang harusnya berjalan otomatis ternyata tidak berfungsi, pada saat itu, Genyo segera menuju mesin tersebut dan menjalankannya secara manual. Orang-orang yang menyaksikan acara pembukaan tidak sadar bahwa mesin tersebut rusak, mereka melihat bahwa mesin tersebut berjalan lancar sebagaimana mestinya. Setelah pembukaan pertama di Kyoto, Laser Clay Range menjadi terkenal di seluruh Jepang, Nintendo pun segera membuka beberapa Laser Clay Range di kota lain.

 

MEMASUKI INDUSTRI VIDEO GAME

Kesuksesan Laser Clay Range Nintendo ternyata tak bertahan lama, beberapa bulan kemudian, terjadi krisis minyak di seluruh dunia. Perekonomian di Jepang pada saat itu pun terpengaruh, dan usaha Nintendo pun mengalami kemunduran bahkan nyaris bangkrut. Hiroshi pun berusaha mencari ide baru untuk membangkitkan Nintendo dari keadaan “hampir mati”. Pada tahun 1975, Hiroshi bertemu dengan teman masa kecilnya di sebuah acara makan malam, pada saat itu Hiroshi berdiskusi mengenai teknologi terbaru bernama semiconductor dan microprocessor yang dapat dimanfaatkan dalam industri mainan.

Walaupun berhasil mendapatkan lisensi dari Magnavox, Hiroshi memiliki ambisi untuk menciptakan produk serupa yang dibuat langsung oleh Nintendo

 

Dari diskusi tersebut, Hiroshi menyadari bahwa teknologi tersebut sudah mulai digunakan dalam industri mainan di Amerka Serikat, perusahaan seperti Atari dan Magnavox telah menciptakan alat yang dapat menjalankan permainan elektronik pada televisi. Hiroshi pun segera menghubungi pihak Magnavox, dia mencoba meminta lisensi agar Nintendo dapat memproduksi dan menjual produk permainan elektronik buatan Magnavox di Jepang. Walaupun berhasil mendapatkan lisensi dari Magnavox, Hiroshi memiliki ambisi untuk menciptakan produk serupa yang dibuat langsung oleh Nintendo.

Pada tahun 1977, Nintendo pun bekerjasama dengan Mitsubishi Electronics, mereka mencoba untuk membuat permainan elektronik yang mirip dengan produk Magnavox. Tak lama kemudian, Nintendo pun meluncurkan produk yang bernama Color TV Game 6 yang dapat dimainkan melalui televisi. Produk Color TV Game Nintendo ternyata laku di pasaran, tercatat sebanyak 15.000.000 unit Color TV Game 6 terjual dan Nintendo pun meluncurkan Color TV Game 15 yang juga laku di pasaran layaknya pendahulunya.

 

PENUTUP

Setelah Color TV Game, Nintendo pun mulai menemukan jati diri sebagai perusahaan video game. Tak lama kemudian kelak meraka akan merilis berbagai macam konsol video game seperti Game & WatchFamily Computer/Nintendo Entertainment System, hingga Nintendo 3DS dan Wii U yang merupakan konsol terbaru mereka. Mereka pun kelak memperkenalkan berbagai seri video game yang terkenal seperti MarioMetroid, The Legend of Zelda, Fire Emblem, KirbyPokémon, Super Smash Bros., Animal Crossing, hingga Splatoon yang merupakan seri terbaru dari Nintendo.

Kepemimpinan Hiroshi Yamauchi kelak akan digantikan oleh almarhum Satoru Iwata pada tahun 2002 hingga Iwata meninggal pada 11 Juli 2015 kemarin. Saat ini, untuk sementara, Nintendo dipimpin oleh Shigeru Miyamoto dan Genyo Takeda.

 

Catatan

Artikel “Nintendo: Awal Mula Sang Raksasa Video Game” dipublikasikan pertama kali di Wikiba; artikel ini ditulis berdasarkan rujukan buku Nintendo: The company and Its Founders karya Mary Firestone dan Game Over: Press Start To Continue karya David Sheff.

Terima kasih kepada Erik Voskuil dari blog Beforemario atas foto produk-produk jadul Nintendo.

  • Firestone, Mary.
    Nintendo: The Company And Its Founders.
    ABDO Publishing Company
    2011
    ISBN 978-1-61714-809-5
    Mary Firestone telah menulis lebih dari 30 buku untuk pembaca usia muda.
    Karyanya juga muncul di berbagai macam majalah dan surat kabar Minnesota.
    Beliau adalah finalis dalam Midwest Book Awards dengan karyanya yang berjudul Dayton’s Department.
    Beliau tinggal di St. Paul, Minnesota.
  • Sheff, David
    Game Over : Press Start To Continue.
    GamePress/CyberActive Publishing
    1999
    ISBN 0-966-9617-0-6
    Artikel karya David Sheff pernah muncul dalam Playboy, Rolling Stone, The Observer dan Foreign Literature (dalam Bahasa Rusia), dari berbagai terbitan dan dalam buku All Things Considered terbitan National Public Radio.
    Buku karyanya yang berjudul The Playboy Interviews with John Lennon and Yoko Ono merupakan salah satu dari Literary Guild Selection.
    Sheff tinggal di California Utara bersama istrinya, Karen Barbour, dan anaknya, Nicolas.
Follow Zul Ahadi:

Editor in-chief

Biasa main game di Wii U, 3DS, dan PC.