with No Comments
“Music Game” (atau terkadang disebut juga sebagai “Rhythm Game”, dan dalam Bahasa Jepang populer disebut sebagai “Otoge” / 音ゲー) adalah salah satu video game genre yang melibatkan aktivitas pemain yang seolah-olah memainkan sebuah lagu dengan kontrol yang disediakan dalam permainan tersebut dan mengikuti irama lagu yang sedang diputar pada latar permainan. Permainan dalam bentuk ini mempunyai berbagai macam aturan dan kontrol, seperti menyediakan kontrol yang mirip dengan memainkan drumset , menginjakkan kaki pada tombol / pad, menyentuh layar sesuai arahan yang muncul di layar hingga menari mengikuti sensor yang muncul. Arahan tersebut sudah diprogram sedemikian rupa mengikuti alunan lagu.
Genre ini mulai populer di Indonesia ketika permainan musik besutan Konami (divisi musiknya, yaitu Bemani), “Dance Dance Revolution” (DDR) masuk ke ranah Arcade Indonesia, dan mulai dipopulerkan oleh masing-masing Arcade Center di Indonesia. Selain DDR pada masa awal, ada juga mesin Guitar Freaks dan Percussion Freaks (atau dikenal saat ini dengan nama “Drum Mania”), yang merupakan simulasi permainan gitar dan drumset, serta kedua pemain dapat memainkan lagu secara bersamaan (atau lebih tepatnya, melakukan Session atau nge-band). Puncaknya, ketika arus Korean Wave menyerang dan Indonesia kedatangan mesin “Pump It Up!” (PIU), yang merupakan mesin kompetitor dari DDR dan mempopulerkan lagu-lagu K-Pop, selain lagu-lagu original bawaan dari PIU sendiri. Selain PIU, untuk penyeimbang di sisi J-Pop, “MaiMai” hadir dengan membawa lagu-lagu J-Pop, Vocaloid dan Touhou Arrangement, yang juga sedang hits pada saat pertama kali mesin ini hadir di Indonesia, dan kemudian disusul oleh mesin-mesin lainnya.
Dalam artikel kami ini, akan dibahas lima alasan, mengapa “Arcade Music Game” itu bisa dibilang asyik dan populer bagi para penggemarnya.
bar10

02-Drum2_wide

Melatih Kemampuan Motorik

Salah satu hal positif yang paling terasa adalah kemampuan motorik. Kemampuan motorik ini disangkutkan dengan kecepatan membaca (mata) dan kemampuan tubuh kita memberi respon terhadap panduan yang berupa “chart” yang muncul dalam layar permainan. Pastinya, agar permainan semakin seru dan menantang, “chart” tersebut bakal dibuat serumit mungkin, dan fisik kita akan dipaksa untuk mengikuti kerumitan “chart” tersebut. Alhasil, pemain harus membiasakan diri semakin rumitnya permainan dengan berlatih.

Pelatihan kemampuan motorik pun tergantung dari jenis permainannya. Seperti contoh, jika bermain DrumMania, maka pemain akan berlatih koordinasi motorik tangan, untuk memainkan snare, hi-hat, tom, dan lainnya, bersamaan dengan kaki untuk melakukan kick (pedal); Beatmania IIDX, pemain akan melatih ketangkasan masing-masing jari dalam menekan ketujuh tombol yang tersebar layaknya MIDI controller; atau ketika bermain Dance Dance Revolution atau Pump It Up, pemain akan melatih ketangkasan kaki serta stamina agar dapat melewati lagu-lagu dengan tingkat kesulitan tinggi. Meski latihan ini belum setara dengan olah raga, pemain juga akan secara tidak langsung dituntut mempunyai kemampuan fisik yang memadai agar melewati tingkat kesulitan tertentu.

bar10

03-Garband2_wide

Melatih Kepekaan Terhadap Ketukan dalam Ilmu Musik

Syarat kedua untuk dapat menikmati penuh “Music Game” adalah kemampuan pemain dalam mencerna alunan ketukan musik yang harus diikuti pemain selama permainan. “Music Game” biasanya menantang pemainnya untuk bisa mengikuti ketukan secepat dan setipis mungkin, dari ketukan bernilai 1 (4 ketuk), hingga mencapai ketukan bernilai 1/32 (1/8 ketuk) bahkan 1/64 (1/16 ketuk), tergantung dari jenis dan genre musik yang dipakai sebagai latar belakang. Tidak jarang juga, ada “Music Game” yang menambah tingkat kesulitan lagunya, dengan menaruh “note” di posisi yang membuat ketukan musik tersebut menjadi tidak konstan, atau birama dan tempo lagu tersebut berubah di tengah jalan (biasanya diaplikasikan pada musik tipe progressive).

Pentingnya menguasai kepekaan terhadap ketukan tersebut, sangat berdampak positif jika pemain termasuk orang yang sedang menekuni hobi bermusik atau musisi. “Music Game” dapat menjadi alternatif (dan mempunyai unsur fun) pelatihan kemampuan tersebut, selain berlatih menggunakan “metronome” sambil bermusik. Meski begitu, jangan lupa untuk tetap menekuni hobi musik tersebut, jangan sampai tersubtitusikan dengan hobi bermain “Music Game”.

bar10

04-Songlist_wide

Sebagai Media untuk Update Perkembangan Lagu

Agar sebuah “Music Game” dapat menarik pemain sesuai mengikuti perkembangan market, tidak jarang para pengembang game ini melakukan pembaruan daftar lagu dalam permainan yang diusungnya. Pembaruan lagu dilakukan biasanya tergantung dari pendekatan masing-masing pengembang game tersebut. Pendekatan tersebut mempengaruhi fokus pembaruan, seperti “genre apa yang akan difokuskan?”, “akan fokus mengisi lagu dari fandom tertentu”, “tema yang diusung oleh game” dan “fokus mengisi lagu berdasarkan circle produser tertentu”.

Contoh penerapan ini, seperti seri permainan Rhythmvaders (Groove Coaster) dan Sound Voltex yang sebagian isi lagunya ditujukan untuk penggemar seri Touhou dan Vocaloid; atau Guitar Freaks dan Drum Mania (GitaDora) yang fokus menyajikan lagu yang sebagian besar dari band J-Pop dan genre rock.

bar10

05-Diskusi_wide

Komunitas yang Diversif

Tahukah kamu, bahwa bentuk permainan serta durasi yang dibutuhkan untuk menjadi ahli dalam sebuah judul “Arcade Music Game” dapat mempengaruhi tipe komunitas yang dibentuk berdasarkan permainan tersebut. Diversif yang dimaksud adalah tipe serta karakter secara umum dari komunitas “music game” tersebut. Bila permainan tersebut semakin sulit, maka orang-orang yang di dalam komunitas tersebut, cenderung orang-orang yang fokus untuk bermain sambil berlatih skill untuk bermain permainan tersebut. Selain itu, untuk masalah gameplay, bila permainan tersebut berupa dance, maka komunitas tersebut cenderung diisi oleh orang-orang yang suka berdansa atau melakukan freestyle.

bar10

06-MaiWin_wide

Menjadi Pribadi yang Kompetitif

Demi menguasai tingkat kesulitan tertinggi dari suatu permainan “Arcade Music Game”, tidak jarang para pemainnya berlatih bermain game tersebut dari tingkat kesulitan yang dikuasai oleh pemain sekarang dan perlahan memainkan tingkat kesulitan berikutnya sedikit demi sedikit. Tentunya perlu motivasi, agar pemain tidak merasa bosan atau stress menjalani latihannya. Salah satu caranya adalah mencari teman yang sedang melakukan latihan bersama dan bersama-sama saling berkompetisi satu sama lainnya. Bila tidak mendapatkan teman yang setara keahliannya, dapat juga mengajak teman yang lebih ahli dan banyak belajar dari cara dia memainkan permainan tersebut. Selain itu, beberapa permainan juga menyediakan fitur online record track dan online ranking, yang senantiasa merekam rekor terbaik pemain serta membandingkannya dengan pemain lainnya, yang secara tidak langsung memancing hasrat kompetitif pemain agar lebih baik dari rekor sebelumnya.

bar10

02-Drum3_wide
Demikian 5 alasan mengapa orang-orang tertarik bermain “Arcade Music Games”, hingga sub-kultur ini masih populer hingga saat ini, tidak hanya di Singapur, Jepang dan Korea saja (yang notabene mempunyai Arcade Game Center yang sangat terdepan dan up-to-date), tetapi di Indonesia juga. Tidak sepenuhnya bermain di Arcadekhususnya dalam hal “Music Game”, itu memberikan dampak buruk kepada pemainnya. Bisa saja dengan tingkat kemahiran seorang pemain, dapat mempengaruhi hal-hal positif lainnya dalam kehidupan sehari-hari, yang tentunya di luar saat bermain. Perlu diingat juga, bahwa jangan sampai terlalu “bersemangat” bermainnya yah, karena bermain permainan Arcade juga membutuhkan “kocek” yang tidak sedikit, apalagi jika serius menekuninya.

bar10

Special Thanks to:

Game Master: Istana Plaza (Venue)
Anchi (as Emi Hoshino)
Dhani (Photos)

Follow mirael:

Gamer yang saat ini hanya fokus bermain music games. Gemar mendengarkan musik, khususnya tipe instrumental, musik latar video game (khususnya JRPG), dan vocaloid. Kadang iseng melakukan aransemen di waktu luangnya.