with No Comments
Royals
Para Royal Family. Leo (pria rambut pendek di pojok kiri bawah), Elise (di atas Leo), Camilla (di atas Elise), Xander (pria rambut pirang dengan headband emas), Ryoma (Samurai dengan hiasan kepala merah), Hinoka (perempuan rambut merah pendek), Sakura (di bawah Hinoka), dan Takumi (pria rambut panjang di pojok kanan bawah).
Fire Emblem merupakan salah satu sesepuh video game TRPG. Bagaimana tidak, Fire Emblem diluncurkan pertama kali pada tahun 1990 di Jepang.
Walaupun telah memiliki penggemar sebelumnya, Fire Emblem mulai lebih terkenal pada tahun 2012 saat Fire Emblem Awakening diluncurkan. Fire Emblem Awakening yang pada saat itu dianggap lebih “terbuka” untuk pemain baru dengan pilihan untuk meniadakan sistem “permanent death”.
Menurut data VGChartz, Fire Emblem Awakening terjual sebanyak 1,90 juta unit di seluruh dunia. Angka penjualan tersebut pun memberikan “kehidupan” baru untuk seri yang hampir mati ini.
Dengan “modal” kesuksesan Fire Emblem Awakening, Nintendo meluncurkan Fire Emblem Fates untuk wilayah Amerika Serikat pada tahun ini (tahun lalu di Jepang). Fire Emblem Fates masih dikembangkan oleh Intelligent Systems dan menghadirkan konsep dan sistem permainan baru yang tidak ada sebelumnya dalam Fire Emblem Awakening.
Seperti apakah konsep dan sistem permainan baru tersebut? Wikiba Asia mempersembahwa ulasan mendalam mengenai Fire Emblem Fates untuk kalian!
p.s:
Pengulas pertama kali mengenal Fire Emblem setelah memainkan Fire Emblem Awakening. Pengulas pun telah memainkan beberapa video game dari seri ini, yaitu Fire Emblem (Fire Emblem: Rekka no Ken), Fire Emblem: The Sacred Stones, Fire Emblem: Shadow Dragon, dan Fire Emblem: Path of Radiance.

bar10

STORY

Garon vs Sumeragi
Setelah berhasil menjebak Sumeragi, Garon tidak segan untuk menghabisinya

Fire Emblem Fates menawarkan konsep cerita baru. Cerita utama mengisahkan mengenai persaingan antara dua kerajaan, yaitu Hoshido dan Nohr. Untuk menambah bumbu drama, alkisah Sang Raja dari Kerajaan Nohr menyerang (serangan kejutan) pasukan Kerajaan Hoshido hingga menewaskan Sang Raja Hoshido; Raja Nohr pun “menculik” salah satu pangeran Hoshido (masih kecil, atau setidaknya belum dewasa) yang ikut hadir dalam tragedi tersebut.

Pemain diberikan cerita utama yang bercabang, yaitu Fire Emblem Fates: Birthright dan Fire Emblem Fates: Conquest. Dalam Birthright, pemain memilih untuk memihak Kerajaan Hoshido. Dalam Conquest, pemain memilih untuk memihak Kerajaan Nohr. Birthright menceritakan perjalanan sang karakter utama (My Unit/Avatar/Corrin) untuk mengalahkan Garon (Raja Kerajaan Nohr). Dalam versi ini, Avatar meyakini bahwa sumber utama peperangan berkepanjangan adalah Garon yang ambisius dengan cara yang salah.

Menurut pemahaman umum, Birthright memberikan tingkat kesulitan yang lebih “beginner-friendly“. Namun, bukan berarti unsur cerita dibuat tidak menarik. Walaupun mungkin tidak sekelam Conquest (mungkin, karena saya belum memainkan Conquest), Birthright tetap menyajikan cerita yang cukup memiliki unsur Kellam. Tentu saja, ada beberapa karakter yang tewas dalam cerita, beberapa bahkan merupakan karakter yang cukup “dekat” dengan karakter utama.

Sementara itu, Conquest memiliki cerita yang lebih “gelap” dari Birthright. Sebagai kerajaan yang terbiasa hidup dalam kesulitan, karakter-karakter Nohr terbiasa dengan keputusan logis, termasuk membunuh pihak-pihak yang dianggap “menghalangi” langkah Sang Raja, Garon.

Selain itu, terdapat beberapa cerita sampingan yang dapat diketahui melalui in-game text. Salah satu dari cerita sampingan tersebut adalah mengenai pihak-pihak lain yang terlibat dalam perang, kenangan masa lalu karakter, hingga kisah karakter dari kerajaan tetangga. Tak lupa, terdapat beberapa drama menarik yang disajikan, seakan selalu mengingatkan pemain bahwa peperangan bukanlah hal yang baik.

Saya tak akan mengisahkan seluruh cerita yang ada. Namun, pada intinya, konsep cerita yang diberikan sangat unik dan memberikan pandangan “mencerahkan” bagi pemain. Konsep cerita tersebut pun mengingatkan pemain bahwa tidak ada pihak yang benar dan salah dalam suatu peperangan.

bar10

VISUAL

Camilla
Ya, adegan Camilla menyapa Corrin hanya dapat ditemukan dalam Fire Emblem Fates: Birthright.

Seperti sebagian besar video game Nintendo 3DS, grafis bukanlah hal yang dapat dibanggakan. Grafis Fire Emblem Fates masih sama dengan Fire Emblem Awakening. Walaupun tampilan saat bermain masih mengandalkan sprite untuk setiap unit, Fire Emblem Fates memberikan visual lebih saat transisi. Sebelumnya, transisi dari map-view ke battle-view sangat biasa, dengan tampilan layar menjadi gelap. Namun, dalam Fire Emblem Fates, transisi tersebut lebih baik, seakan kamera benar-benar zoom-in mendekati para unit.

Layaknya video game lain pada umumnya, bagian cutscene Fire Emblem Fates merupakan bagian dengan tampilan paling indah. Semua cutscene ditampilkan dengan gaya “pseudo 3D” (seperti cel-shading, namun tidak terlalu cel-shading *LOL*).

Tak lupa, Yūsuke Kozaki kembali sebagai seniman utama dalam Fire Emblem Fates. Karena masih ditangani oleh seniman yang sama dengan Fire Emblem Awakening, jangan kaget apabila kalian menemukan beberapa karakter Fire Emblem Fates yang mirip (bahkan, disengaja) dengan karakter Fire Emblem Awakening.

bar10

AUDIO

Elise
Suara Elise versi Bahasa Inggris tak kalah imut dengan versi Bahasa Jepang. Tentu saja, Elise memanggil pemain dengan sebutan “Big Sister/Brother”, bukan “Onii/Oneechan”.

Musik dramatis tampaknya sudah menjadi ciri khas Fire Emblem. Selain musik a la abad pertengahan, karena Birthright dipengaruhi oleh budaya Jepang, maka musik-musiknya pun bertemakan Jepang, termasuk musik a la film-film Ninja. Saat peluncuran awal Fire Emblem Fates, isu utama yang seringkali dikeluhkan oleh para penggemar (dan juga “penggemar”) adalah mengenai ketiadaan pilihan suara Bahasa Jepang. Tidak dapat dipungkiri, ketiadaan pilihan suara Bahasa Jepang tersebut merupakan penurunan, pasalnya, dalam Fire Emblem Awakening, Nintendo memberikan pilihan Bahasa Jepang.

Mau tidak mau, kita harus menerima dub Bahasa Inggris sebagai pilihan satu-satunya. Terdapat beberapa voice actor yang tidak asing lagi, mulai dari Julie Ann Taylor Flora sebagai Caeldori (juga mengisi suara Cordelia dan Severa dalam Fire Emblem Awakening dan Tsubaki Yayoi dalam seri BlazBlue), Stephanie Sheh sebagai Rhajat dan Sophie (juga mengisi suara Tharja dan Kjelle dalam Fire Emblem Awakening dan Hinata Hyuga dalam seri Naruto), hingga Matthew Mercer sebagai Ryoma, Azama, dan Shigure yang belakangan ini mengisi suara karakter dari video game Nintendo (Chrom dalam Fire Emblem Awakening, Lao dalam Xenoblade Chronicles X, Klaus dalam Stella Glow, dll.). Tak lupa, lagu Hitori Omou pun diubah ke dalam Bahasa Inggris menjadi Lost in Thought All Alone yang dinyanyikan oleh Rena Strobber (VA Azura).

Walaupun mungkin dianggap tidak lebih baik dari bahasa aslinya, dub Bahasa Inggris tidaklah seburuk yang kita kira.

bar10

GAMEPLAY

Ryoma
Ryoma merupakan salah satu unit terbaik karena memiliki Personal Skill Bushido dan senjata Raijinto.

Jika kalian pernah memainkan video game Fire Emblem sebelumnya (terutama Fire Emblem Awakening), maka sistem permainan Fire Emblem Fates bukanlah hal yang baru. Namun, terdapat beberapa sistem permainan, baik sistem yang diubah maupun baru sama sekali.

MY CASTLE

Salah satu fitur tambahan yang paling terasa adalah fitur online interaction/multiplayer. Dalam Fire Emblem Fates, terdapat fitur My Castle. Fitur tersebut, sesuai namanya, memberikan kebebasan kepada pemain untuk merancang “istana pribadi” yang dapat diisi oleh bangunan (shop, forge/blacksmith, statue untuk meningkatkan stats unit, kantin, hingga pemandian air panas) menggunakan Dragon Vein Unit. Pemain dapat bertukar alamat My Castle untuk saling mengunjungi istana masing-masing dan mencoba mengalahkan unit yang telah diatur sebelumnya. Apabila berhasil mengalahkan (atau, “merebut” singsana) kastil lawan, maka pemain dapat merekrut unit di istana tersebut yang dapat digunakan sebagai “amunisi tambahan” saat melanjutkan cerita (terutama apabila memilih tingkat kesulitan Lunatic). Selain merekrut unit, pemain dapat membeli Skill dari unit yang sama dengan biaya yang cukup “murah” (contoh, apabila Mario berhasil mengalahkan istana Luigi, maka Mario dapat membeli Skill Astra dari unit Ryoma Luigi agar unit Ryoma milik Mario memiliki Skill Astra). Tak lupa, pemain pun dapat mengadu strategi secara langsung (melalui Local atau Internet) dengan pilihan Wireless Battle.

Fitur My Castle sangat membantu pemain, terutama dalah hal Skill grinding. Pemain tak perlu lagi berpindah-pindah class hanya untuk mendapatkan Skill tertentu.

WEAPONRY

Istilah senjata dibedakan untuk masing-masing kerajaan. Kerajaan Hoshido memiliki senjata Katana, Naginata, Club, Shuriken, Yumi, Scroll, dan Rod; sementara itu, kerajaan Nohr memiliki senjata Sword, Lance, Axe, Dagger, Bow, Tome, dan Staff. Perbedaan istilah digunakan sekadar untuk menyerasikan tema, senjata Hoshido dengan tema “eastern” dan senjata Nohr dengan tema “western“. Masing-masing senjata pun dapat ditukar; misalnya, selain menggunakan Shuriken, Ninja pun dapat menggunakan Dagger.

Sistem persenjataan sedikit diubah dalam Fire Emblem Fates. Pertama, kini semua senjata kecuali Rod/Staff tidak memiliki batasan penggunaan. Kedua, setiap senjata memiliki efek masing-masing, baik positif maupun negatif. Misalnya, Silver Katana memiliki efek Critical Evade -5 dan Strength & Skill -5 setelah digunakan. Ketiga, terdapat lima senjata pusaka yang hanya dapat digunakan oleh para putra mahkota, yaitu pedang Raijinto milik Ryoma, pedang Siegfried milik Xander, panah Fujin Yumi milik Takumi, buku sihir Brynhildr milik Leo, dan pedang Yato milik Corrin. Raijinto, Siegfried, Fujin Yumi, dan Brynhildr memiliki “elemen” masing-masing yaitu petir, kegelapan, angin, dan bumi. Sementara itu, Yato memiliki keunikan tersendiri karena seiring berjalannya cerita, Yato akan berubah wujud dan memberikan efek yang lebih baik.

Weapon triangle pun diubah. Kini Katana/Sword dan Scroll/Tome mengalahkan Club/Axe dan Bow/Yumi, Club/Axe dan Bow/Yumi mengalahkan Shuriken/Dagger dan Naginata/Lance, Shuriken/Dagger dan Naginata/Lance mengalahkan Katana/Sword dan Scroll/Tome. Tentu saja, Rod/Staff berada di luar weapon triangle karena berfungsi sebagai penyembuh.

Mikoto
Mikoto adalah Ratu Kerajaan Hoshido. Perselisihan antara Hoshido dan Nohr memuncak setelah suatu kejadian yang melibatkan Mikoto.

MISSION

Dalam Fire Emblem Fates, misi di setiap chapter memiliki variasi yang cukup banyak. Pertama, misi klasik Seize. Dalam misi ini, pemain harus segera mencapai titik Seize (terdapat di titik di mana Boss berdiri); idealnya, pemain segera menuju titik Seize dan menghindari pertarungan yang tidak diperlukan. Kedua, misi Route Enemies. Dalam misi ini, pemain harus “membersihkan” semua musuh yang ada; misi ini sangat cocok untuk grinding. Ketiga, misi Defeat Boss. Dalam misi ini, pemain harus segera menghabisi boss; berbeda dengan misi Seize, apabila boss dikalahkan, permainan langsung berakhir (dalam misi Seize, pilihan “Seize” dapat dilakukan kapanpun selama tile tersebut bisa ditempati oleh unit pemain).

Keempat, misi Escape. Misi ini mengharuskan semua unit untuk mencapai titik tertentu secepat mungkin; misi ini muncul sejalan dengan cerita di mana para pemain harus kabur dari serangan musuh. Kelima, misi Defend. Misi ini dapat ditemukan dalam Fire Emblem Fates Conquest; pemain harus mencegah musuh mencapai titik tertentu (bisa dibilang, kebalikan dari misi Escape).

Misi-misi tersebut terkadang ditambah dengan unsur lain. Misalnya, misi Escape diberi batasan jumlah Turn tertentu; dengan batasan tersebut, pemain dituntut untuk menggunakan strategi paling efektif.

bar10

CONCLUSION

Xander
Pertarungan melawan Xander sedikit mengecewakan. Namun, tetap sangat emosional.

Fire Emblem Fates merupakan jawaban untuk pemain Fire Emblem Awakening yang kecewa dengan bagian cerita yang terlalu singkat. Dalam Fire Emblem Fates, pemain dipuaskan dengan tiga cerita yang berbeda, dengan waktu permainan 30-60 jam dalam masing-masing cerita. Walaupun terdapat beberapa bagian cerita yang biasa-biasa saja, sebagian besar cerita yang diberikan sangatlah baik dan menyentuh hati pemain.

Tampilan visual tidak memiliki perubahan yang berarti dari Fire Emblem Awakening, namun ketiadaan pilihan audio Bahasa Jepang menimbulkan kekecewaan bagi sebagian penggemar (come on, jika pilihan tersebut ada sebelumnya, mengapa dihilangkan?).

Sistem permainan, terutama fitur My Castle merupakan tambahan yang sangat berarti dan mengubah cara bermain. Pilihan untuk bertarung melawan pemain lain melalui Internet pun merupakan peningkatan besar dibandingkan sebelumnya (dalam Fire Emblem Awakening, pemain dapat melawan pemain lain melalui local connection dan hanya “adu ayam” antara unit, bukan dalam satu map penuh).

Dengan semakin dekatnya waktu peluncururan Nintendo NX (entah dalam wujud home console ataupun handheld console), saya harap Nintendo dan Intelligent Systems dapat melanjutkan seri Fire Emblem.

Akhir kata, Fire Emblem Fates merupakan salah satu video game yang wajib dicoba untuk para penggemar Tactical RPG.

Fire Emblem Fates

39.99 USD
Fire Emblem Fates
80

Story

8/10

    Visual

    8/10

      Audio

      8/10

        Gameplay

        9/10

          Pros

          • Cerita memiliki sudut pandang unik
          • Sistem permainan baru dan lebih berimbang
          • Birthright, Conquest, dan Revelation memiliki perbedaan signifikan

          Cons

          • Tidak ada pilihan dub Bahasa Jepang
          • Unit generasi ke-2 tidak memiliki cerita mendalam
          Follow Zul Ahadi:

          Editor in-chief

          Biasa main game di Wii U, 3DS, dan PC.