with No Comments
Tahun 2016 segera meninggalkan kita semua. Berbagai judul video game telah diluncurkan tahun ini dari berbagai jenis genreplatformdeveloper, dan publisher. Dari berbagai judul tersebut, terdapat beberapa yang buruk, baik, bahkan “sempurna”.
Meneruskan tradisi dari tahun sebelumnya, tahun ini pun staff Wikiba Asia memilih satu judul video game yang dianggap terbaik dan terburuk. Tentu saja, aturan utama adalah video game terbatas pada video game yang diluncurkan pada tahun 2016.
Video game apa yang menjadi pilihan staff Wikiba Asia? Mari kita simak!

ADRIO KUSMAREZA

BEST VIDEO GAME OF 2016

Pokémon Sun & Pokémon Moon (Nintendo 3DS)

September tahun ini, saya diberikan kesempatan untuk kembali memiliki konsol genggam tangan milik Nintendo yaitu New Nintendo 3DS XL. Alasan saya cukup sederhana, karena Pokémon Sun dan Moon akan diterbitkan dua bulan berikutnya atau pada bulan November. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan Pokémon mengikuti petualangan Ash, atau dalam sulih suara Bahasa Indonesia, Ali, saya tidak mau melewatkan kesempatan ini. Terakhir kali saya memainkan Pokémon bertahun-tahun lain pada Pokémon Ruby dan Sapphire.

Sebelum loncat kepada Pokémon Sun dan Moon, saya memulai dengan bernostalgia dengan Pokémon Omega Ruby dan Alpha Sapphire. Ketika itu, saya tercengang dengan seberapa jauh Pokémon berkembang. remake dari Pokémon generasi ketiga itu merupakan sebuah surat cinta untuk seorang veteran seperti saya ini.

Menjajal Pokémon Sun dan Moon—sebagai catatan, saya memiliki kedua permainan tersebut tapi saya lebih berfokus bermain di Moon ketimbang Sun—merupakan sebuah kebahagiaan. Saya sangat menyukai bagaimana Game Freak mencoba menggunakan cerita untuk menggerakkan permainan ini. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yang di mana saya hanya hafal dengan rival kita, kali ini banyak namanya yang saya ingat karena cerita yang disuguhkan dan karakter-karakter yang luar biasa. Saya merasa dekat dengan mereka, seakan mereka adalah teman-teman saya sendiri.

Walau begitu, sebenarnya Pokémon tidaklah banyak berubah dari dahulu. Inti permainannya masih sama. Pertarungan Pokémon, masihlah tetap sama seperti saat saya bermain pertama kali pada Pokémon Gold di Game Boy Color. Walau semakin rumit dengan ditambahnya macam-macam mekanisme yang baru pada dasarnya tetap sama.

Dengan pernyataan membingungkan itu, saya menyatakan bahwa Pokémon Sun dan Moon adalah Permainan Terbaik untuk 2016. Kembali setelah saya melewatkan tiga generasi Pokémon ini mungkin sedikit mengaburkan penilaian saya. Tetapi, saya rasa Pokémon Sun dan Moon adalah sebuah formula yang cocok die hard fans dan mereka yang first timers. Selamat datang di dunia Pokémon.   

MAHESSA RAMADHANA

BEST VIDEO GAME OF 2016

Rabi-Ribi (PC/Steam)

Untuk game terbaik di tahun 2016, sejujurnya sulit sekali bagi saya untuk memilih. Kebanyakan game yang saya mainkan tahun ini sangat memuaskan saya sehingga sulit bagi saya untuk memilih satu. Ada Atelier Firis, yang bagi penggemar Gust seperti saya, berhasil memuaskan saya dengan sistem permainan yang sangat dalam, tingkat tantangan yang baik, musik yang indah, serta konten yang sangat banyak. Ada juga game-game fighting seperti Guilty Gear Xrd -Revelator-, dengan grafis yang memukau dan sistem permainan yang kompleks dan sangat seru terutama jika dimainkan bersama teman-teman, dilengkapi juga dengan tutorial yang sangat baik bagi pemula di genre game fighting. Ada juga saudaranya dari pengembang yang sama, BlazBlue Central Fiction, dengan tambahan karakter-karakter yang menarik dan tambahan sistem baru dibanding pendahulunya.

Pada akhirnya, jika saya harus memilih satu, maka saya akan memberi gelar game terbaik 2016 versi saya ke Rabi-Ribi. Ya, game ini terlihat remeh, seperti sebuah indie metroidvania dengan pixel art biasa, dengan gaya gambar yang sangat anime sekali yang juga membuat orang memandang sebelah mata. Tetapi Rabi-Ribi sama sekali bukan game remeh; game ini memiliki tingkat tantangan yang sangat tinggi karena berbeda dengan metroidvania biasa, Rabi-Ribi menambahkan elemen bullet hell ke dalam permainan, sehingga pertarungan melawan boss-nya menjadi sulit dan menantang terutama di tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Elemen bullet hellnya pun tidak main-main, pola tembakan dari lawan bisa sangat kompleks dan membingungkan, pemain harus terus fokus jika ingin bisa menang. Eksplorasinya juga sangat baik, dengan pola yang tidak linear sehingga pemain bisa bebas berkeliling mencari barang-barang yang bisa membantu melawan boss-boss yang sangat sulit. Selain itu, musiknya pun sangat catchy, enak didengar menemani kamu menjelajahi area-area yang ada.

WORST VIDEO GAME OF 2016

Valkyria Chronicles Remastered (PlayStation 4)

Berbeda dengan game terbaik, tahun ini hanya ada satu judul yang saya mainkan yang bagi saya benar-benar tidak bisa saya bilang bagus, yaitu Valkyria Chronicles HD Remastered. Sejujurnya, saya sudah pernah bermain Valkyria Chronicles di Steam sebelumnya, dan ketika itu pun saya memang merasa judul ini tidak sebaik yang sering saya dengar. Tetapi ketika memainkan versi HD remasternya kemarin, ternyata banyak hal-hal yang kurang baik yang sebelumnya tidak saya sadari. Penulisan cerita yang buruk, karakter yang terlalu didramatisir sampai sering terasa bodoh, serta penyeimbangan sistem permainan yang sangat buruk membuat saya kecewa untuk kedua kalinya dengan game ini. Bahkan peningkatan grafis yang seharusnya menjadi salah satu kelebihan versi HD remaster pun tidak begitu signifikan, menambah daftar aspek yang membuat saya kecewa.

WILLY CHANDRADINATA

BEST VIDEO GAME OF 2016
Overwatch (PC/Battle.net)

Tidak terasa sudah sampai di penghujung tahun 2016, banyak game-game besar dan hebat yang rilis di tahun 2016 ini. Walaupun saya tidak memainkan semuanya, namun ada beberapa judul yang benar-benar berkesan.

Pertama ada The Division, game yang sempat di gembar-gemborkan sejak beberapa tahun yang lalu oleh Ubisoft. Walaupun terlihat tidak sesukses yang diharapkan namun game ini cukup menarik untuk dimainkan, apalagi jika anda memainkannya dengan sahabat-sahabat anda yang agak “gila”. Namun menjelang pergantian tahun ini cukup banyak update yang kembali menarik para pemain.

Kedua The Legend of Heroes: Trails of Cold Steel II, game ini merupakan kelanjutan dari seri pertamanya. Versi Japan sudah meluncur pada tahun 2014 dan baru rilis di North America di tahun 2016 ini. Game yang sangat menarik dan cukup saya tunggu-tunggu, baik dari gameplay sampai ke storynya sangat memuaskan.

Terakhir sang juara Game of The Year 2016 saya pribadi yaitu Overwatch dari Blizzard. Awalnya saya ragu dengan game ini, tapi sekarang game ini selalu saya mainkan setiap malam. Saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak bosan-bosan memainkannya setiap malam. Menurut saya game ini wajib dimainkan bersama dengan teman-teman atau sahabat anda dengan dilengkapi fitur voice chat, rusuh deh pokonya haha…

IRKHAM FARADAY

BEST VIDEO GAME OF 2016

Digimon Story: Cyber Sleuth (PlayStation Vita)

Selain Kamen Rider, hal kedua yang paling saya sukai dari dunia je-jepangan adalah Digimon. Tak dapat dipungkiri, Digimon lah yang membuat saya menyukai pop-culture Jepang hingga sekarang bersekolah disini. Pada tahun 2016 ini, terdapatgame Digimon yang dirilis untuk console PS4 dan PSVITA, yakni Digimon Story: Cyber Sleuth!

Game inidirilis di Jepang pada bulan Maret 2015, versi Bahasa Inggris dirilis kemudia pada Maret 2016. Saking nge-fansnya dengan Digimon, saya yang tidak memiliki kedua console game tersebut akhirnya memutuskan untuk membeli PSVITA agar dapat menikmati game ini (don’t ask why I didn’t choose PS4). Saking tidak sabarnya, bahkan saya sok-sokan membeli game yang berbahasa Jepang bersamaan dengan pembelian PSVITA saya pada Mei 2015. Namun tidak lama akhirnya saya menyerah memainkan game ini karena tidak mengerti kanji. Alhamdulillah, pada tahun 2016 versi Inggris Cybersleuth rilis.

Game ini sendiri mungkin bukanlah game terbaik versi banyak orang. Hanya saja, bagi saya, game ini sangat menarik (fans digimon). Gameplay nya pun classic RPG, sistem Digivolve bagus seperti campuran Digimon 1,2, dan 3 PS1, Ceritanya juga lucu dan menarik, dan yang terpenting daftar Digimon yang bisa digunakan sangat beragam! Mulai dari Digimon Adventure 1 hingga Digimon Savers (plus banyak lagi). Digimon Story: Cyber Sleuth pun selalu saya mainkan dari awal hingga tamat tanpa selingan game lain, dan menjadi game Vita pertama yang saya tamatkan.

RHEZA AJI PARAMARTA

BEST VIDEO GAME OF 2016

Overwatch (PC/Battle.net)

Overwatch adalah satu-satunya yang penulis dalami dari saat mendapat closed beta-key dari Blizzard secara tidak langsung, dan masih dimainkan sampai sekarang bersama penulis lainnya. Permainan ini juga mendapat penghargaan Game of The Year dari The Game Awards 2016. Dalam hal ini, Overwatch sendiri sudah memiliki keunikan tersendiri, dari segi cerita, grafis, gameplay, karakter, dan juga permainan kompetitif loh.

Untuk segi permainan, Overwatch dapat disamakan dengan kakak-tidak-langsung-beda-developer, yaitu Team Fortress 2. Yang membedakan dari dua judul permainan tersebut, adalah banyaknya karakter yang dimiliki oleh Overwatch dengan berbagai role tiap karakter (meskipun tiap karakter memiliki role tersendiri, hal itu dapat digantikan dengan cara bermain tiap player, semisal Zenyatta tidak terlalu fokus dalam role healer dapat menjadi role offense namun tidak lebih mobile dari karakter dengan role offense) berbanding terbalik dengan Team Fortress 2 yang jarang sekali ada pemain yang bisa melakukan flank saat pertama kali bermain karena keterbatasan karakter yang dapat melakukannya.

Segi cerita, disini fanbase Overwatch sangat tinggi sekali, dan juga meme-able. Cerita dari Official Blizzard sendiri saja sudah dianggap terlalu dalam untuk diarungi, apalagi saat Sombra muncul di Blizzcon ’16, dimana ada adegan hacking di layar utama dan mendadak, trailer Sombra hadir di tengah-tengah pengunjung yang sedang lalu lalang. Belum lagi banyak sisi gelap dari agen-agen Overwatch, seperti pasukan khusus Blackwatch yang dipegang oleh Gabriel Reyes A.K.A. Reaper dan dengan juniornya, Jesse McCree yang akhirnya berkomplotan untuk menghancurkan Overwatch yang saat itu dipegang oleh Jack Morisson atau setelah Omnic Crisis selesai, disebut sebagai Soldier:76. Karakter-karakter yang dianggap mati atau hilang juga muncul, seperti ibu kandung Fareeha atau Pharah, yaitu Ana. Dalam trailer juga, banyak spinoff Blizzard Game yang dapat ditemukan, seperti seorang penjaga bermain Hearthstone disaat para karakter sedang bertarung untuk menjaga ataupun mendapatkan Doomfist.

Dalam segi permainan kompetitif, berbeda sekali dengan Closed Beta Version, dimana pada dahulu kala, Competitive Game itu belum termasuk hal yang perlu dipentingkan, karena masih ada banyak hal yang dipertimbangkan oleh tim Overwatch sendiri. Lalu saat perilisan Competitive Mode, banyak pro dan kontra dalam perhitungan rank pada season 1, entah karena ketidakjelasan perhitungan, harus bagaimana agar dapat menjadi yang terbaik atau bagaimana menghindari penurunan drastic dalam rank. Masuk di season 2 dan 3, sistem kompetitif pun diubah sedemikian rupa agar dapat memperjelas jalannya permainan kompetitif.

Untuk sistem in-app purchase sendiri sebenarnya tidak terlalu penting, karena dengan 40USD saja anda bisa mendapatkan banyak lootbox dari leveling saja, belum termasuk karena event-event khusus seperti Summer Games 2016, Halloween dengan Mercy sebagai mama dari semua ciptaan Junkenstein (Junkrat), dan juga Winter Christmas yang dimana Scrooge McCree, diacuhkan oleh agen Overwatch lainnya. Tidak terlalu penting namun tingkat garam disini lebih kuat, dibandingkan dengan music game di iPad seperti Deresute.

Dalam rangkuman ini, penulis mengakui, Overwatch memang patut menjadi Game of The Year 2016, dimana banyak aspek menarik yang dapat dicari dari game ini, belum lagi fanbase yang besar juga dapat mengubah dunia Overwatch menjadi meme-able objects. Dan juga bisa dianggap sebagai Team Fortress 2 dengan aspek-aspek dan cerita yang apik.

VINCENT KURNIA

BEST VIDEO GAME OF 2016
God Eater 2 Rage Burst & God Eater Resurrection (PlayStation Vita)

Tahun ini saya jatuh hati dengan game God Eater 2 Rage Burst dan God Eater Resurrection. Well, game ini bisa dibilang salah satu game hunting terfavorit selain game Monster Hunter yang akhirnya dirilis dalam bahasa ingris. Walaupun perilisan game ini hampir bersamaan dengan pesaingnya, Monster Hunter Generations, namun akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke kedua game ini karena saya bisa mendapatkan dua game ini dengan harga satu game. *tertawa*

Ketertarikan kedua game tersebut selain memberikan visual yang cukup wah juga pemain dapat bermain dengan pemain lainnya. Perlu diketahui game God Eater 2 Rage Burst dan God Eater Resurrection merupakan versi terupdate dari God Eater (PlayStation Portable) dan God Eater 2 (PlayStation Portable/PlayStation Vita). Tentu saja story yang ditawarkan dalam versi terupdate lebih menarik dan menegangkan.

WORST VIDEO GAME OF 2016
World of Final Fantasy (PlayStation Vita)

World of Final Fantasy merupakan sebuah inovasi yang cukup menarik yang disuguhkan oleh Square Enix tahun ini. Untuk pertama kalinya Square Enix merilis “Pokémon ala Final Fantasy” yang belum pernah dirilis sebelumnya. Memang pemain dimanjakan dengan visual yang cukup wah layaknya seri Final Fantasy yang sudah rilis di pasaran, namun dengan adanya game yang sejenis, membuatnya tidak menarik.

REZA ZEFANYA

BEST VIDEO GAME OF 2016

Trillion: God of Destruction (PlayStation Vita)

Tahun ini saya berkesempatan memainkan game-game yang menarik seperti Sword Art Online Hollow Realization, God Eater, Odin Sphere, Project Diva X, dan sebagainya. Semuanya sangat bagus, namun yang paling mengesankan adalah Trillion: God of Destruction.

Trillion: God of Destruction mengisahkan neraka yang tiba-tiba diserang oleh makhluk bernama Trillion. Dalam game ini, pemain ditugaskan untuk mengalahkan Trillion, yang sesuai dengan namanya memiliki 1,000,000,000,000 HP dengan menggunakan beberapa karakter yang disediakan dalam game. Sepanjang permainan, Trillion akan tertidur dan pemain harus menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkuat karakternya. Gagal mengalahkan Trillion akan menyebabkan Trillion menghancurkan neraka sedikit demi sedikit, karakter yang gagal mengalahkannya juga tidak akan bisa digunakan lagi.

Konsepnya terbilang cukup unik karena tujuan permainan ini hanya mengalahkan satu musuh utama saja, sayangnya gameplaynya cukup repetitif sehingga membuat kebanyakan orang tidak akan menyukai game ini.

Hal yang paling saya sukai dalam game ini adalah cerita dan karakternya. Semua karakter dalam game ini sangat setia kepada pemimpinnya, mereka juga tidak ragu untuk berkorban demi orang lain. Seperti game Compile Heart lainnya, adegan konyol ada untuk menghibur pemain, namun kali ini ceritanya cukup serius dan penuh dengan adegan yang mengharukan yang membuat pemain menjadi emosional.

ZUL AHADI R

BEST VIDEO GAME OF 2016

Overwatch (PC/Batte.net)

Walaupun terdapat video game menarik lainnya seperti Fire Emblem Fates, Monster Hunter GenerationsTokyo Mirage Sessions ♯FE, Shin Megami Tensei IV: Apocalypse, dan Pokémon Sun & Moon, gelar GOTY 2016 harus saya berikan kepada Overwatch. Mengapa? Hear me out.

Saya pertama kali mendengar mengenai Overwatch pada bulan November 2015; saat itu, saya tertarik oleh artwork Overwatch. Setelah mencari informasi lebih lanjut, Overwatch ternyata merupakan video game first-person shooter, sebuah genre yang tidak menarik untuk saya; alhasil, saya melupakan Overwatch. Mendekati tanggal peluncuran, saya kembali teringat dengan Overwatch; pada saat itu, terdapat lebih banyak alasan untuk tidak membeli daripada alasan untuk membeli. Berbagai alasan untuk tidak membeli, antara lain karena Overwatch tidak memiliki mode single-player (story). Namun, entah apa yang merasuki, saya akhirnya berkata “f*ck it, let’s try this game” dan membelinya pada tanggal 26 Mei 2016. Tak disangka-sangka, Overwatch ternyata sangat menarik untuk dimainkan, terutama untuk pemain yang tidak menyukai first-person shooter seperti saya. Dua pekan kemudian, tak terasa sudah lebih dari 36 jam saya habiskan untuk bermain Overwatch. Intensitas bermain Overwatch pun bertambah saat memasuki bulan Ramadhan; waktu malam hari saya habiskan untuk bermain Overwatch bersama teman-teman (termasuk teman-teman sesama Wikiba Asia seperti Adrio, Willy, dan Rianto) sambil menunggu waktu sahur. Hingga saat ini, saya telah menghabiskan lebih dari 300 jam bermain Overwatch.

Apa sebenarnya yang membuat saya terus memainkan Overwatch hingga saat ini? Mungkin, terdapat berbagai alasan. Overwatch merupakan video game yang mengutamakan kerjasama. Terdapat 21 Hero (kemudian menjadi 23 dengan tambahan Ana dan Sombra) yang memiliki peran masing-masing’ misalnya, Soldier: 76 sebagai Hero offense yang menjadi “barisan depan” saat menyerang musuh, Junkrat sebagai Hero defense yang melemparkan bomnya untuk mencegah musuh mendekat, Winston sebagai Hero tank yang menyerang “garis belakang” musuh, dan Mercy sebagai Hero support yang siap menyembuhkan Hero kawan. Tak hanya itu, walaupun berada dalam kategori yang sama, setiap Hero pun memiliki peran khusus; misalnya, Reinhardt yang sama-sama merupakan Hero Tank memiliki peran berbeda dengan Winston. Alih-alih maju dan menyerang “garis belakang” musuh, Reinhardt berperan sebagai tameng yang melindungi Hero kawan saat menyerang. Dengan membagi peran setiap Hero, Overwatch memberikan pengalaman bahwa setiap pemain sama pentingnya dengan pemain lain, tak ada istilah “one man carry“. Sehebat apapun kemampuan individu pemain, apabila tidak disertai dengan kerjasama, maka mustahil untuk memenangkan permainan.

Dari segi visual, Overwatch memiliki Hero (dan stage/environment) yang berwarna-warni; Soldier: 76 dengan warna biru, Tracer oranye, D.Va merah mudah, Reinhardt abu-abu, Reaper warna hitam, Sombra warna ungu, dan lain sebagainya. Tampilan visual warna-warni merupakan daya tarik tersendiri dari Overwatch; apabila dibandingkan dengan video game first-person shooter lainnya yang terkesan kelam dan monokrom, tampilan warna Overwatch memberikan kesan segar sehingga pemain tidak merasa cepat bosan saat berlama-lama di depan layar. Mungkin alasan ini sangat subjektif, namun tampilan visual warna-warni Overwatch merupakan salah satu unsur yang sangat memengaruhi sehingga saya terus memainkannya.

Layaknya video game first-person shooter pada umumnya, Overwatch mengedepankan interaksi antar pemain. Dengan bantuan voice chat, pemain dapat berkomunikasi untuk mengatur strategi saat menyerang musuh (bahkan, demi menggunakan fitur voice chat, saya rela membeli headset). Interaksi antar pemain pun dapat dimanfaatkan sebagai ajang mencari teman baru sehingga permainan berikutnya dapat lebih dinikmati. Bagi saya pribadi, Overwatch telah mempertemukan saya dengan berbagai teman baru yang hingga saat ini masih rutin bermain bersama.

Tiga hal tersebut sekiranya cukup memberikan alasan mengapa Overwatch layak mendapatkan geler Game of the Year tahun ini. Berangkat dari “aksi nekat” mencoba video game first-person shooter, Overwatch menjadi video game yang memberikan berbagai pengalaman menarik di tahun 2016. Menghadapi tahun 2017, saya rasa Overwatch akan tetap menjadi video game yang saya mainkan setiap hari. Oh iya, sekadar trivia, lima Hero yang paling sering saya mainkan hingga saat ini adalah Lúcio, Reinhardt, D.Va, Junkrat, dan Hanzo.

Yak, tahun ini ternyata 3 dari 8 staff Wikiba Asia yang memilih Overwatch sebagai “Game of the Year” versi mereka. Tak hanya judul “besar” seperti Pokémon Sun & Pokémon Moon, tahun ini pun terdapat video game “kecil” seperti Rabi-Ribi yang masuk dalam daftar “Game of the Year”.
Masih sama dengan yang kami tekankan tahun lalu, penilaian pribadi kami bukanlah standar yang harus harus diikuti untuk menentukan “video game terbarik tahun 2016” versi kalian. Apapun video game yang kita pilih sebagai video game terbaik tahun ini, yang paling penting adalah kita menikmati video game tersebut.
Tahun 2016 menjadi tahun yang baik untuk penggemar video game. Mari kita sambut 2017 dengan berbagai video game baru yang menarik!
Follow Wikiba Asia:

Konon, Emi Hoshino lah yang berada di balik akun ini.