with No Comments

Light novel merupakan suatu jenis novel yang berasal dari Jepang. Light novel pertama kali muncul pada tahun 1970-an, di mana light novel merupakan sebuah evolusi dari majalah roman picisan atau pulp magazine. Untuk menarik minat pembacanya, majalah jenis ini mulai menyisipkan ilustrasi di sela-sela ceritanya dan juga menyertakan artikel mengenai film, anime, dan permainan video populer. Di Jepang sendiri, light novel dikenal dengan nama raito noberu atau dipersingkat menjadi ranobe.

Kesastraan modern Jepang dimulai saat memasuki zaman Meiji. Pada saat ini, Jepang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan yang datang dari Eropa[1]. Bentuk novel yang populer saat itu adalah Yomihon[2], Kokkeibon[3], dan Ninjobon[4]. Ketiga jenis novel tersebut merupakan kesastraan pada akhir zaman Edo. Pengarang yang menulis ketiga jenis novel itu sekaligus disebut Gensakusha[5]. Pengarang yang terkenal yang mewakili zaman Meiji adalah Kanagaki Robun. Robun itu sendiri dikenal sangat peka dengan keadaan zaman, kebudayaan, dan kebiasaan masyarakat pada zaman Meiji. Namun, setelah Jiyu Minken Undo [6] muncul, Seiji Shosetsu[7] mulai ditulis untuk menyebarkan propaganda politik.

Kemunculan light novel pada awalnya disebabkan oleh pengaruh dari luar. Enomoto[8] menyatakan bahwa pada tahun 1970-an, banyak novel-novel fantasi luar negeri yang ditujukan untuk anak sekolah SMP dan SMA serta dewasa muda. Novel yang masuk ke dalam Jepang terbagi menjadi dua, yang berupa high fantasy dan juga low fantasy. High fantasy merupakan cerita fantasi dengan latar yang berbeda dengan dunia kita. Di Jepang, orang mengenalnya dengan istilah ken to mahou atau pedang dan sihit. Sedangkan low fantasi merupakan cerita fantasi yang berlatarkah dunia kita dengan dimasukkan elemen gendai fantajii atau fantasi modern.

Masuknya konsep fantasi dari Eropa ke Jepang ini menjadi awal dari yang disebut oleh Fantasy Boom. Saat itu, gambaran yang diterima oleh Jepang mengenai fantasi adalah suatu cerita dengan latar dunia lain seperti di Eropa yang dicampur dengan elemen pedang dan sihir. Tidak hanya fantasi, novel fiksi ilmiah juga memberikan pengaruh pada pembentukan light novel.

Otsuka Eiji[9] menyatakan bahwa light novel memiliki suatu kekhususan yang menggambarkan fiksi dalam dunia anime maupun manga. Kekhususan itu disebut dengan anime mangateki realism. Lahirnya konsep anime mangateki realism adalah pada masa akhir tahun 1970-an dilihat Matoko Arai yang baru memulai debutnya. Menurut Ootsuka dalam Azuma[10], novel-novel yang ditulis oleh Arai tidak menggambarkan dunia nyata namun merujuk kepada konsep yang meniru gambaran yang ada pada anime dan manga. Bisa dikatakan bahwa Matoko Arai adalah orang yang pertama kali menginspirasikan tentang penggambaran anime dan manga dalam novel. Arai juga merupakan orang yang mempopulerkan istilah Otaku dalam budaya pop Jepang melalui novel-novelnya. Azuma[11] mengatakan bahwa tidak ada kata ‘aku’ dalam light novel, yang ada dalam light novel hannyalah karakter.

Sejarah light novel benar-benar dimulai ketika sebuah novel terbitan Sonorama Bunko pada tahun 1975 tercipta. Jenis cetakan itu sendiri sangat murah dan tipis, sama seperti light novel yang dikenal saat ini. Mengikuti penciptaan itu penulis cerita fiksi ilmiah dan horor, Hideyuki Kikuchi, atau Yumemakura Baku, memulai karirnya dipercetakan seperti itu.

Pada tahun 1986, novel epik yang ditulis Yoshiki Tanaka, The Heroic Legend of Aslan menjadi bahan perbincangan di kalangan remaja di Jepang. Disusul juga dengan novel Novel Reocrd of Lodoss War dari Ryo Mizuno mendapat sambutan yang sangat meriah. Kedua judul tersebut kemudian diadaptasi menjadi anime.

Sampul Slayer Vol. 1

Kemudian pada tahun 1989, Slayers karya Hajime Kanzaka pertama kali diterbitkan di bawah Dragon Magazine. Slayers dapat dikatakan sebagai light novel pertama yang mendapatkan animo yang sangat besar. Selain menjadi pelopor yang memasukan elemen komedi dalam cerita petualangan, Slayers sendiri berhasil menjadi sebuah warlaba media mix yang menyebar mulai dari adaptasi manga, anime, films, OVA, dan permainan video.

Logo Kadokawa

Beberapa tahun kemudian, Media Works—berganti nama menjadi ASCII Media Works—membangun sebuah percetakan pop literatur yang diberi nama Dengeki Bunko—yang kini dikenal sebagai penerbit light novel terbesar di Jepang. “Starburst Stream!”. ASCII Media Works juga merupakan bagian dari Kadokawa. Seri Boogiepop adalah terbitan terbesar mereka yang pertama dan memudian diadaptasi menjadi anime dan mendapatkan banyak apresiasi dari penonton yang kemudian membuat mereka tertarik dalam literatur light novel.

Starburst Stream, Tangkap Layar dari Eromanga-sensei Episode 8.

Light novel menjadi budaya pop Jepang yang sangat penting sejak tahun 2000-an. Salah satu karya terbesar yang pernah diciptakan ialah seri Haruhi Suzumiya yang ditulis Nagaru Tanigawa. Mulai dari situ, light novel menjadi semakin berkembang menjadi sebuah fenomena yang tidak ada hentinya.

Penulis-penulis di Dengeki Bunko perlahan mulai mendapatkan perhatian dari para pembaca dan kemudian meledak dan menjadi sangat ternama. Setelah sukses dengan seri Haruhi Suzumiya, tiba-iba banyak penerbit dan pembaca yang mulai berminat dengan light novel. Kebanyakan dari anime dan film yang diciptakan di Jepang kini mayoritas diadaptasi dari light novel.

Penulis-penulis di Dengeki Bunko perlahan mulai mendapatkan perhatian dari para pembaca dan kemudian meledak dan menjadi sangat ternama sekitar tahun 2006. Setelah sukses dengan seri Haruhi Suzumiya, tiba-tiba banyak penerbit dan pembaca yang mulai berminat dengan light novel. Hingga akhirnya berkembang sampai sekarang. Kebanyakan dari anime dan film yang diciptakan di Jepang juga mayoritas diadaptasi dari  light novel sendiri.

Berbeda dengan novel atau karya prosa pada umumnya, light novel sama seperti halnya manga yang diterbitkan setiap minggu, pada hari-hari tertentu. Tempat penerbitannya adalah majalah mingguan. Setelah usai dengan ceritanya barulah semua bab yang telah terbit di majalah selama berminggu-minggu itu akan dibukukan, dan juga ceritanya bagus akan menjadi cerita serial. Walau begitu, ada juga light novel yang langsung diterbitkan dalam bentuk buku dan biasanya itu merupakan light novel yang sudah sangat terkenal. Salah satu light novel yang terkenal adalah Sword Art Online karya Reki Kawahara yang sampai saat ini sudah terbit sampai dua puluh jilid.

Berapa majalah yang menjadi tempat para pengarang light novel bersinggah di antaranya adalah Faust, Gekkan Dragon Magazine, The Sneaker, Dengeki HP, atau majalah waralaba seperti Comptiq dan Dengeki G’s Magazine. Sedangkan untuk penerbitnya ada Dengeki Bunko, Kadokawa Shoten, dan Gagaga Bunko.

My Youth Romantic Comedy is Wrong as I Expected Vol. 1. Terjemahan Bahasa Ingris oleh Yen Press

Perkembangan yang sangat pesat di Jepang menjadikan ratusan judul light novel yang terbit setiap tahunnya. Setiap tahunnya juga diadakan banyak kontes menulis light novel oleh perusahaan=perusahaan penerbitan untuk mencari bakat-bakat baru. Dengeki Bunko adalah yang terbesar dengan total jumlah pengikut lomba lebih dari 6.500 naskah menurut data tahun 2013. Hadiah utamanya adalah uang tunai sebesar 1 juta Yen dan penerbitan novelnya. My Youth Romantic Comedy Is Wrong, As I Expected adalah satu light novel yang pernah memenangi kompetisi tersebut yang dikarang oleh Wataru Watari.

Light novel sendiri dijual dengan label light novel—bukan novel. Harga setiap bukunya sendiri sangat murah, berbeda dengan kebanyakan novel atau karya sastra serius lainnya. Lighr novel The Melancholy of Haruhi Suzumiya sendiri hanya dijual seharga 540 Yen (sudah termasuk 8% pajak konsumsi). Penjualan light novel sendiri termasuk industri yang paling menguntungkan di Jepang. Salah satu situs Pemerintah Jepang mengatakan bahwa penjualan light novel mencapai 20 juta Yen atau sekitar 30 juta jilid yang terjual pada tahun 2007. Penerbit raksaksa seperti Kadokawa Group merupakan pemegang kekuatan terbesar dengan menguasai sekitar 70% sampai 80% pasar. Pada tahun 2009 bahkan pasaran light novel mencapai penjualan sebanyak 30.1 juta Yen dan merupakan 20% dari penjualan semua buku cetak berformat bunkobon[12] di Jepang.

Referensi

[1] Mandah., D. (1992). Pengantar kesusastraan Jepang. Jakarta: Grasindo.

[2] Yomihon sebuah novel yang mengadaptasi alur cerita dari Tiongkok

[3] Kokkeibon sebuah novel berisikan cerita jenaka

[4] Ninjobon sebuah novel yang berisikan masalah cinta

[5] Gensakusha berarti original author (penulis asli)

[6] Sebuah konsep saat Jepang mulai membuka diri pada Barat, berarti Freedom and People’s Rights Movement

[7] Seiji Shosetsu berarti narasi politik

[8] Enomoto, Aki (2008), Raito Noberu Bungakuron,Tokyo: NTT Shuppan

[9] Enomoto, Aki (2008), Raito Noberu Bungakuron,Tokyo: NTT Shuppan

[10] Azuma, Hiroki. 2007. Gemuteki Riarizumu No Tanjo: Doubutsukasuru Posutomodan 2. Tokyo: Kodansha

[11] Azuma, Hiroki. 2007. Gemuteki Riarizumu No Tanjo: Doubutsukasuru Posutomodan 2. Tokyo: Kodansha

[12] Bunkobon buku berformat kecil yang biasanya berukuran A6

Follow Aoji:

Chief Executive Officer

The founder of Wikiba Asia. Currently taking Master degree at Keio University Japan. Casual PC and Handheld gamer.